Indonesia Wonder

Loading
English Version | Bahasa Indonesia
Friday, November 24, 2017

Kasultanan Yogyakarta

Publish 04-06-2010 10:53:56 by Admin

Kasultanan Yogyakarta (Kasultanan Ngayogyokarto Hadiningrat)

Asal mula Kasultanan Yogyakarta dimulai pada pada tahun 1558 M. Pada tahun itu, Ki Ageng Pemanahan dihadiahi sebuah wilayah di Mataram oleh Sultan Pajang atas jasanya membantu Kerajaan Pajang dalam mengalahkan Arya Penangsang. Ki Ageng Pemanahan adalah putra Ki Ageng Ngenis atau cucu Ki Ageng Selo, seorang tokoh ulama besar dari Selo, Kabupaten Grobogan. Pada tahun 1577, Ki Ageng Pemanahan membangun istananya di Pasargede atau Kotagede. Selama mendiami wilayah pemberian Sultan Pajang, Ki Ageng Pamanahan tetap setia pada Sultan Pajang. Ki Ageng Pamanahan meninggal pada tahun 1584 dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Kotagede.

Sepeninggal Ki Agenh Pamanahan, Sultan Pajang kemudian mengangkat Sutawijaya, putra Ki Ageng Pemanahan sebagai penguasa baru di Mataram. Sutawijaya juga disebut Ngabei Loring Pasar karena rumahnya terletak di sebelah utara pasar. Berbeda dengan ayahnya, Sutawijaya menolak tunduk pada Sultan Pajang. Ia ingin memiliki daerah kekuasaan sendiri bahkan ingin menjadi raja di seluruh Pulau Jawa. Melihat sikap Sutawijaya tersebut, Kerajaan Pajang berusaha merebut kembali kekuasaan Kerajaan Pajang di Mataram. Penyerangan terhadap Mataram dilakukan pada tahun 1587. Namun, dalam penyerangan ini pasukan Pajang justru porak-poranda diterjang badai letusan Gunung Merapi sedangkan Sutawijaya dan pasukannya selamat.

Pada tahun 1588, Mataram menjadi kerajaan dengan Sutawijaya sebagai Sultan dengan bergelar Senapati Ingalaga Sayidin Panatagama atau Panembahan Senopati. Panembahan Senopati memiliki arti panglima perang dan ulama pengatur kehidupan beragama. Sebagai penguat legitimasi kekuasaannya, Panembahan Senopati menetapkan bahwa Mataram mewarisi tradisi Kerajaan Pajang yang berarti Mataram berkewajiban melanjutkan tradisi penguasaan atas seluruh wilayah Pulau Jawa. Pada tahun 1601 Panembahan Senapati wafat dan digantikan putranya, Mas Jolang yang kemudian dikenal sebagai Panembahan Seda ing Krapyak. Pada tahun 1613, Mas Jolang wafat kemudian digantikan oleh Pangeran Arya Martapura. Tetapi karena sering sakit kemudian digantikan oleh kakaknya Raden Mas Rangsang yang bergelar Sultan Agung Senapati Ingalaga Abdurrahman yang juga dikenal dengan sebutan Prabu Pandita Hanyakrakusuma atau Sultan Agung Hanyakrakusuma.

Pada masa Sultan Agung Kerajaan Mataram mengalami perkembangan pada kehidupan politik, militer, kesenian, kesusastraan, dan keagamaan. Ilmu pengetahuan seperti hukum, filsafat, dan astronomi juga dipelajari. Pada tahun 1645, Sultan Agung wafat dan digantikan putranya Amangkurat I. Setelah wafatnya Sultan Agung, Kerajaan Mataram mengalami kemerosotan yang luar biasa. Akar dari kemerosotan itu pada dasarnya terletak pada pertentangan dan perpecahan dalam keluarga Kerajaan Mataram sendiri yang dimanfaatkan oleh VOC. Puncak dari perpecahan itu terjadi pada tanggal 13 Februari 1755 dengan ditandai penandatanganan Perjanjian Gianti yang membagi Kerajaan Mataram menjadi dua, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta (Kasultanan Ngayogyokarto Hadiningrat).

Dalam perjanjian Gianti tersebut, dinyatakan bahwa Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan atas Kasultanan Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengku Buwono Senapati Ingalaga Abdul Rakhman Sayidin Panatagama Khalifatullah. Sejak itu Pangeran Mangkubumi resmi menjadi sultan pertama di Yogyakarta dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwana I. Para Sultan yang pernah memerintah di Kasultanan Yogyakarta yaitu :

1. Sri Sultan Hamengku Buwana I (1755-1792)

2. Sri Sultan Hamengku Buwana II (1925-1810)

3. Sri Sultan Hamengku Buwana III (1810-1813)

4. Sri Sultan Hamengku Buwana IV (1814-1822)

5. Sri Sultan Hamengku Buwana V (1822-1855)

6. Sri Sultan Hamengku Buwana VI (1855-1877)

7. Sri Sultan Hamengku Buwana VII (1877-1921)

8. Sri Sultan Hamengku Buwana VIII (1921-1939)

9. Sri Sultan Hamengku Buwana IX (1939-1988)

10. Sri Sultan Hamengku Buwana X (1988-sekarang)

 (Adi Tri Pramono/JT/02/03-10)
Foto:
Koleksi Jogjatrip.com 

Sumber Bacaan:


“Keraton Ngayoyakarta Hadiningrat,” artikel diunduh pada 27 Maret 2010, dari: http://id.wikipedia.org/wiki/Keraton_Ngayogyakarta_Hadiningrat

 

http://putripandanwangi.blogspot.com/2008/02/javanese-encyclopedia.html

 



Read : 234 time(s).