Indonesia Wonder

Loading
English Version | Bahasa Indonesia
Senin, 22 Desember 2014

Desa Wisata Wonosadi

Publish 01-01-1970 07:00:00 by Admin
Rating : 0 ( 0 )

A. Selayang Pandang

Desa wisata di Kabupaten Gunungkidul memang menawarkan kekhasan tersendiri. Kekhasan tersebut ditunjukkan oleh beberapa desa wisata yang menawarkan keunggulan masing-masing sebagai sentra kerajinan topeng kayu, batu kapur, dan lampu antik dari logam cor. Selain menawarkan produk berupa kerajinan, di Kabupaten Gunungkidul terdapat desa yang menawarkan nilai konservasi alam (lingkungan) yang dikenal dengan nama Desa Wisata Wonosadi.

Desa Wisata Wonosadi menawarkan eksotisme Hutan Wonosadi yang masih alami. Hutan Wonosadi terletak di wilayah Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul. Atas dasar pertimbangan tersebut, maka dibentuklah Badan Pengelola Desa Wisata Wonosadi (Baladewi) untuk mengelola aset tak ternilai harganya ini sebagai nilai tawar yang akan menarik minat wisatawan berkunjung ke desa ini.

Lihat saja bagaimana tata kelola air di Desa Wisata Wonosadi ini. Penduduk di desa ini tidak pernah kekurangan pasokan air, sebagaimana masalah klasik yang dialami sebagian besar wilayah Kabupaten Gunungkidul. Kenyataan ini semata-mata karena kesadaran masyarakat setempat untuk melestarikan Hutan Wonosadi sehingga hutan ini mampu menjalankan fungsinya dalam siklus air.

Selain keberadaan Hutan Wonosadi sebagai daya tarik utama, Desa Wisata Wonosadi juga menawarkan obyek wisata lainnya, seperti obyek wisata rohani, yaitu Watu Gedhong, Kali Ndek, dan Sedang Karang Tengah. Selain itu, Desa Wisata Wonosadi juga menawarkan benda-benda kerajinan dari bambu (industri rumahan dari bahan baku bambu). Berbagai acara kebudayaan juga kerap kali digelar di desa wisata ini, seperti upacara rasulan, sadranan, mboyong Dewi Sri, midang, mitoni, ruwatan, dan seni musik rinding gumbeng.

B. Keistimewaan

Mitos dapat dipakai sebagai konsep kesadaran untuk menjaga lingkungan. Konsep ini dipakai oleh masyarakat di sekitar Hutan Wonosadi untuk menjaga kelestarian hutan. Bagi masyarakat di Desa Wonosadi, konsep menjaga kelestarian hutan sangat dipengaruhi oleh kepercayaan masyarakat sekitar, bahwa hutan tersebut merupakan milik Pangeran Onggolotjo, seorang putra keturunan dari Kerajaan Majapahit. Pangeran ini memberikan kepercayaan kepada masyarakat Desa Wonosadi untuk menjaga dan mengelola Hutan Wonosadi dengan sebaik-baiknya.

Ketakutan masyarakat sehubungan dengan status hutan yang dianggap milik orang keturunan ningrat, menumbuhkan kesadaran penduduk sekitar hutan untuk menjaga flora dan fauna yang menjadi kekayaan Hutan Wonosadi. Kenyataan ini berimbas positif dengan terjaganya ekosistem hutan, baik flora dan fauna, serta benda-benda di Hutan Wonosadi lainnya, misalnya batu-batu besar yang ditengarai merupakan hasil letusan dari Gunung Merapi purba.

Inilah satu praktik upaya konservasi lewat cara berpikir masyarakat yang sederhana. Mereka menganggap pelestarian Hutan Wonosadi adalah adat istiadat yang harus dijaga dan dilestarikan secara turun-temurun sebagai Hutan Adat.

Hutan yang masih kaya akan flora dan fauna serta terjaga kelestarian dan alami ini, kini mendapatkan tempat di mata wisatawan dan menjadi daya tarik tersendiri. Selain itu, berbagai batu besar yang ditengarai merupakan hasil letusan dari Gunung Merapi purba menjadi obyek kajian arkeologis maupun vulkanis yang cukup menarik.

Desa Wisata Wonosadi juga mempunyai keistimewaan lain berupa pelestarian kesenian rakyat yang disebut rinding gumbeng. Kesenian ini dipercaya sebagai kesenian tradisional tertua di Pulau Jawa.

Rinding gumbeng adalah seni musik yang merupakan cerminan dari kondisi keseharian mayoritas masyarakat di Kabupaten Gunungkidul yang ulet, sederhana, dan dekat dengan alam. Kesenian ini memadukan dua alat musik yang diberi nama rinding dan gumbeng. Rinding merupakan alat musik yang terbuat dari sebilah bambu yang ditiup. Sedangkan gumbeng adalah instrumen musik yang terbuat dari bambu dan menyerupai gitar perkusi dengan senar yang dimainkan dengan cara ditabuh.

Tidak begitu jelas kapan pertama kali rinding gumbeng dimainkan. Beberapa kalangan menyebutkan bahwa musik rinding gumbeng telah dimainkan sejak zaman dulu, ketika masyarakat Gunungkidul belum mengenal logam dan masih mempercayai Dewi Sri sebagai dewi padi.

Rinding gumbeng biasa dimainkan ketika panen pertama. Masyarakat setempat mengarak padi dengan iringan musik rinding gumbeng yang meriah. Kemeriahan tersebut dipercaya dapat membuat Dewi Sri senang sehingga hal ini memberikan berkah untuk masa tanam hingga panen berikutnya.

Kini rinding gumbeng mulai masuk ke era modern yang menuntut berbagai inovasi. Musik rinding gumbeng telah jarang dimainkan dalam pesta panen. Salah satu solusi untuk tetap mempertahankan eksistensi musik rinding gumbeng adalah dengan memadukan musik rinding gumbeng  dengan beberapa musik tradisional yang lain, misalnya dalam musik campursari, keroncong, dangdut, hingga dolanan bocah.

C. Lokasi

Lokasi Desa Wisata Wonosadi terletak di dua dusun, yaitu Dusun Duren dan Sidorejo, Desa Beji, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta atau sekitar 35 km ke arah utara dari Kota Wonosari.

D. Akses

Lokasi Desa Wisata Wonosadi bisa diakses dengan kendaraan pribadi, baik roda dua (2) maupun empat (4). Selain menggunakan kendaraan pribadi, pengunjung juga bisa memanfaatkan sarana angkutan umum. Pengunjung bisa naik bus jurusan Yogyakarta-Wonosari dari Terminal Giwangan, Yogyakarta dan turun di Terminal Wonosari. Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan naik colt berwarna hijau dengan jurusan Kecamatan Ngawen. Selain naik colt, pengunjung juga bisa memanfaatkan fasilitas ojek yang banyak terdapat di Terminal Wonosari. Selain itu, pengunjung juga bisa menghubungi pusat informasi Desa Wisata Wonosadi di nomor telepon 081804185565 atas nama Bapak Muhammad Kasno atau Sudibyo.

E. Harga Tiket

Pengunjung yang akan singgah di kawasan Desa Wisata Wonosadi tidak dipungut biaya. Pengunjung hanya diwajibkan untuk menjaga keasrian dan keaslian desa wisata ini dengan tidak membuang sampah sembarang dan merusak ekosistem sekitar.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Desa Wisata Wonosadi menyediakan berbagai sarana dan prasarana penunjang untuk kenyamanan Anda selama berwisata. Fasilitas tersebut, antara lain:

  1. Home stay berkapasitas 10 orang dengan biaya sewa Rp 30.000,00 per orang (makan 3 kali).
  2. Pusat jajanan yang menjual berbagai kuliner khas Gunungkidul, seperti tiwul, krupuk rambak, gethuk lindri atau gethuk biasa, kripik pisang, dan kripik singkong.
  3. Area parkir berkapasitas 20 mobil, 50 sepeda motor, dan 3 bus.
  4. Pusat informasi yang melayani pengunjung setiap hari pukul 08.00–18.00 WIB.

Selain sarana dan prasarana pendukung, Desa Wisata Wonosadi juga sering menggelar pertunjukan kesenian rakyat, seperti wayang kulit dan wayang orang, tari klasik, reog kreasi baru, dan seni rinding gumbeng untuk menarik para wisatawan agar berkunjung ke desa ini.

Tunggul  Tauladan

__________

Sumber Foto : Koleksi wisatamelayu.com



Dibaca : 548 kali.

Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan
komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola
obyek wisata setempat.

Komentar - komentar

Komentar Anda tentang obyek wisata di atas :
Nama : *
Alamat : *
Email : *
URL / Website :
Misal : http://www.indonesiaWonder.com/
Komentar : *
Komentar anda akan dimoderasi oleh administrator terlebih dahulu.
   
 
* = Harus diisi