Indonesia Wonder

Loading
English Version | Bahasa Indonesia
Kamis, 27 November 2014

Rumah Adat Bubungan Tinggi

Publish 05-06-2012 14:33:00 by Admin
Rating : 0 ( 0 )

A. Selayang Pandang

Masyarakat Banjar di Kalimatan Selatan memiliki beberapa rumah adat yang khas dan unik, salah satunya adalah Rumah Bubungan Tinggi. Dulu, rumah adat ini merupakan tempat tinggal Sultan Banjar sehingga menduduki tingkat tertinggi dari seluruh tipe rumah adat Banjar lainnya. Disebut Rumah Bubungan Tinggi karena bubungan atapnya berbentuk lancip dengan sudut 45o menjulang tinggi ke atas. Rumah Bubungan Tinggi diperkirakan sudah ada sejak abad ke-16, yaitu ketika daerah Banjar dipimpin oleh Sultan Suriansyah atau yang bergelar Psnembahan Batu Habang (1596–1620 Masehi).

Pada mulanya, konstruksi Rumah Bubungan Tinggi berbentuk segi empat yang memanjang ke depan. Namun dalam perkembangannya, bangunan tersebut mendapat tambahan pada bagian belakang maupun pada sisi kanan dan kirinya. Untuk bagian belakang diberi tambahan sebuah ruangan yang berukuran sama panjang atau biasa disebut dengan disumbi. Sedangkan pada bagian sisi kanan dan kiri diberi tambahan bangunan yang menempel (pisang sasikat) pada bangunan induk yang menjorok ke samping dan dikenal dengan istilah anjungan. Itulah sebabnya rumah adat Banjar ini disebut juga Rumah Ba-anjung.

Pada perkembangan selanjutnya, Rumah Bubungan Tinggi tidak lagi menjadi ciri khas sebagai rumah tinggal Sultan Banjar seiring dengan munculnya bangunan-bangunan yang meniru bentuk rumah adat ini, baik di sekitar keraton maupun di daerah-daerah lain. Bangunan rumah tersebut pada awalnya hanya milik para bangsawan dan para saudagar kaya, kemudian diikuti oleh masyarakat Banjar pada umumnya. Kini, Rumah Bubungan Tinggi telah menjadi ciri khas bangunan rumah seluruh penduduk Kalimantan Selatan, khususnya masyarakat Banjar.

Secara umum, hampir seluruh bagian dari bangunan rumah adat Banjar terbuat dari kayu. Khusus bagian fondasi digunakan kayu naga atau kayu galam (yang tahan di tanah lumpur selama puluhan bahkan ratusan tahun) karena daerah Banjar berada di atas rawa-rawa berlumpur. Sementara itu, bagian kerangka, lantai, dan dinding, umumnya menggunakan kayu ulin, kayu damar putih, dan kayu lanan. Demikian juga atapnya yang terbuat dari sirap juga menggunakan bahan kayu ulin atau atap rumbia.

B. Keistimewaan

Rumah bagi masyarakat Banjar bukan sekadar tempat berlindung, tetapi juga merupakan ekspresi kebudayaan (kearifan lokal), keyakinan, serta bentuk harapan. Semua bentuk ekspresi tersebut diwujudkan mulai dari tata cara mendirikan rumah, bentuk rumah, hingga ornamen-ornamennya. Ekspresi kebudayaan terlihat pada tata cara menentukan ukuran panjang dan lebar rumah yang harus menggunakan ukuran depa suami (depa: satuan ukuran yang diukur sepanjang kedua belah tangan mendepang dari ujung jari tengah kiri sampai ke ujung jari tengah kanan, atau sekitar enam kaki [±1,8 meter]) dalam jumlah ganjil dengan harapan rumah dan penghuninya kelak akan mendapatkan kedamaian dan keharmonisan. Selain itu, baik dan buruknya ukuran sebuah rumah juga ditentukan oleh delapan lambang binatang, yaitu naga, asap, singa, anjing, sapi, keledai, gajah, dan gagak. Panjang ideal sebuah rumah dilambangkan oleh naga, sedangkan lebar ideal dilambangkan oleh gajah.

Dari segi fisik, bentuk bangunan Rumah Bubungan Tinggi diibaratkan tubuh manusia yang terdiri dari 3 bagian. Secara vertikal, rumah adat yang berbentuk rumah panggung ini terdiri dari kolong rumah (bawah) yang melambangkan kaki, badan rumah (tengah) yang melambangkan badan, dan atap rumah (atas) yang melambangkan melambangkan kepala. Secara horizantal, anjungan yang berada di sisi kanan dan kiri melambangkan tangan kanan dan kiri.

Dari segi filosofi, bentuk rumah melambangkan perpaduan antara dunia atas dan bawah, sedangkan penghuninya berada di antara kedua dunia tersebut. Filosofi ini lahir dari kepercayaan Kaharingan pada suku Dayak bahwa alam semesta terdiri dari dua bagian yaitu alam atas dan bawah. Wujud filosofi ini terlihat pada ornamen-ornamen rumah adat Banjar seperti ukiran burung enggang sebagai lambang dunia atas, dan ukiran naga sebagai lambang dunia bawah.

Selain itu, ornamen-ornamen yang ada pada bangunan Rumah Bubungan Tinggi juga dipengaruhi oleh unsur budaya suku Dayak dan Islam. Ornamen yang dipengaruhi oleh unsur budaya suku Dayak umumnya menggunakan motif flora dan fauna, seperti buah manggis, belimbing, mengkudu, dan nanas. Sedangkan motif tanaman yang digunakan memiliki manfaat, baik untuk bahan makanan maupun obat-obatan seperti tanaman kangkung, jamur, cengkeh, tunas bambu (rebung), sirih, sebagainya. Ada juga yang menggunakan motif dari tanaman yang biasa digunakan dalam upacara-upacara adat seperti bunga cempaka, kenanga, pakis, mawar, dan sebagainya. Sementara itu, unsur budaya Islam terlihat pada ukiran-ukiran kaligrafi Arab seperti kalimat syahadat, nama-nama khalifah, shalawat, maupun ayat-ayat tertentu dalam Al Quran.

C. Lokasi

Rumah Bubungan Tinggi terdapat di Kelurahan Tibung Raya dan Desa Gambah, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan.

D. Akses

Kota Kandangan terletak sekitar 135 kilometer dari Kota Banjarmasin yang dapat dicapai dengan menggunakan jalur darat dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Jika berangkat dari terminal Kota Kandangan, wisatawan dapat menggunakan kendaraan umum jurusan Kota Kandangan-Kelurahan Tibung Raya atau jurusan Kota Kandangan-Desa Gambah.

E. Harga Tiket

Pengunjung yang ingin menyaksikan Rumah Bubungan Tinggi tidak dipungut biaya.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Fasilitas seperti penginapan, restoran, dan warung makan, dapat Anda temukan di Kota Kandangan yang berada tak jauh dari lokasi Rumah Bubungan Tinggi. (Samsuni/iw/39/02-2012)

 

Dari berbagai sumber

Sumber foto:

·          http://www.kaskus.us/showthread.php?p=132592572

·          http://bubuhanbanjar.wordpress.com/2010/09/20/ornamen-rumah-tradisional-banjar/

·          http://www.e-bandung.com/2011/10/rumah-banjar-rumah-tradisional-suku.html



Dibaca : 525 kali.

Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan
komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola
obyek wisata setempat.

Komentar - komentar

Komentar Anda tentang obyek wisata di atas :
Nama : *
Alamat : *
Email : *
URL / Website :
Misal : http://www.indonesiaWonder.com/
Komentar : *
Komentar anda akan dimoderasi oleh administrator terlebih dahulu.
   
 
* = Harus diisi