Indonesia Wonder

Loading
English Version | Bahasa Indonesia
Rabu, 22 November 2017

Makam Teungku Di Ujung

Publish 18-05-2012 15:50:00 by Admin
Rating : 0 ( 0 )

A.      Selayang Pandang

Kabupaten Simeulue adalah pulau tersendiri di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang berjarak sekitar 150 Kilometer dari lepas pantai barat Aceh. Kabupaten ini berada di sebuah pulau dengan nama yang sama, Pulau Simeulue. Pada zaman dulu, Pulau Simeulue dikenal dengan nama Pulau U yang berarti “Pulau Kelapa” karena di tempat ini banyak tumbuh pohon kelapa.

Ketika tsunami menerjang Aceh pada 2004 silam, Pulau Simeulue mengalami kerusakan parah. Namun, ketika tsunami (orang setempat menyebutnya smong) datang, terdapat sebuah tempat yang tak terjamah gelombang tersebut, meskipun daerah sekitarnya rusak parah. Tempat itu adalah sebuah makam yang dikenal orang dengan nama Makam Teungku Di Ujung .

Selain dihantam gelombang tsunami pada 2004, Makam Teungku Di Ujung ternyata juga menjadi sasaran tsunami pada 1907. Namun, meskipun terkena gelombang tsunami, Makam Teungku Di Ujung tetap tak mengalami kerusakan. Menurut kesaksian penduduk, setelah terjadi smong, terdapat kapal yang terdampar di tepi pantai dan menempel pada dinding pagar makam. Atas dasar kejadian tersebut, Makam Teungku Di Ujung  dianggap menyimpan kekuatan supranatural. Sebagai catatan, di Pulau Simeuleu ini sebenarnya terdapat dua makam serupa (keramat), yaitu Makam Teungku Di Ujung dan Makam Bakudo Batu.

Makam Teungku Di Ujung  berada di sebuah kompleks dengan tembok pagar pembatas. Dahulu, selain Tengku Di Ujung, di kompleks ini juga dikuburkan istrinya yang bernama Si Melur (nama ini konon berubah menjadi nama Pulau Simeulue) dan anaknya. Namun, kedua makam tersebut hilang setelah dihempas ombak tsunami.

Makam Teungku Di Ujung  berbeda dengan makam yang lain. Di atas makam dibuatkan rumah-rumahan beratapkan asbes, bertiang kayu empat buah, dan berlantai keramik. Sementara itu, makam-makam yang lain hanya berupa tembok dari pasir, berlantai semen berundak-undak. Nisan Makam Teungku Di Ujung  berbentuk bundar dengan ujung lancip yang mirip seperti kubah masjid.   

Menurut cerita yang beredar di masyarakat Simeuleu, Tengku Di Ujung adalah pendakwah Islam dari Minangkabau yang memiliki nama asli Hailullah. Sebelum menjadi pendakwah, ia menghadap Sultan Aceh untuk memohon izin pergi menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Namun, Sultan Aceh justru menantang Hailullah untuk menyiarkan agama Islam di Pulau U (Pulau Simeulue) yang pada masa itu penduduknya masih menganut agama suku. Hailullah menerima tantangan dari Sultan Aceh.

Selain menyiarkan agama Islam, Hailullah juga mengajarkan seni dan budaya di Pulau Simeulue. Budaya yang diajarkan merupakan perpaduan antara budaya suku asli Simeulue, suku pendatang seperti Aceh dan Minangkabau, serta Islam. Oleh karena itu, seni dan budaya orang Simeulue sangat khas dan unik, seperti terlihat pada kesenian angguk, rafai debus (seni kekebalan tubuh), Tari Andalas (pengaruh Minangkabau), nandong (syair-syair yang dinyanyikan), dan Tari Kuala Deli.

Kehadiran Hailullah serta pendakwah Islam lainnya akhirnya melahirkan berbagai cerita rakyat yang dipengaruhi oleh unsur keislaman, seperti nafi-nafi (cerita yang terkait dengan pembentukan nilai-nilai hidup menurut agama) atau buai-buai (nyanyian penidur anak kecil yang merupakan senandung dari ayat suci Al Qur’an). Cara persuasif yang dilakukan Hailullah untuk menyiarkan agama Islam ternyata dapat diterima oleh penduduk di Pulau Simeulue. Hailullah akhirnya berhasil mengislamkan hampir seluruh penduduk Simeulue. Keberhasilan tersebut membuat nama Hailullah berganti dengan nama menjadi Teungku Di Ujung. Teungku Di Ujung membuktikan kecintaan dan kedekatannya terhadap penduduk dan Pulau Simeulue dengan tetap tinggal di pulau ini hingga akhir hayatnya.    

B.      Keistimewaan

Makam Teungku Di Ujung setidaknya memiliki dua keistimewaan, pertama, Teungku Di Ujung merupakan pendakwah yang berhasil mengislamkan hampir seluruh penduduk di Pulau Simeulue. Kedua, makam ini dikenal memiliki keramat yang dibuktikan dengan masih utuhnya makam meskipun dihantam tsunami pada 1907 dan 2004.

Sebagai pendakwah, Teungku Di Ujung tak hanya berhasil mengislamkan, namun juga mengubah adat istiadat yang tercermin lewat berbagai produk budaya masyakat Simeulue. Kebudayaan dan tradisi yang sebelumnya kental dengan aroma animisme dan dinamisme, diubah menjadi lebih Islami, tanpa meninggalkan nilai khas penduduk Simeulue.

Sebagai sebuah makam yang dipercaya memiliki nilai keramat tersendiri, Makam Teungku Di Ujung dapat dijadikan cerminan tentang kebesaran pengaruh seorang ulama. Banyak orang, baik dari Simeulue maupun luar pulau, yang datang untuk berziarah ke makam ini dalam rangka mengenang, mendoakan, serta mengakui kebesaran seorang Teungku Di Ujung.   

C.      Lokasi

Makam Teungku Di Ujung  terletak di Kampung Latak Ayah, Desa Kuta Padang, Kecamatan Simeulue Tengah, Kabupaten Simeulue, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, atau berjarak sekitar 32 Km dari Kota Sinabang, ibukota Kabupaten Simeulue.  Makam Teungku Di Ujung  berada sangat dekat dengan Pantai Latak Ayah di Simeulue Tengah.

D.     Akses

Akses menuju pulau Simeulue dapat ditempuh menggunakan kapal laut atau pesawat kecil dengan kapasitas 12 penumpang. Kapal laut akan bersandar di Pelabuhan Sinabang. Makam Teungku Di Ujung  sendiri dapat ditempuh dengan menggunakan sepeda motor atau mobil selama kurang lebih 2-3 jam dari Kota Sinabang. Jika menggunakan kendaraan umum, Anda dapat memanfaatkan angkutan berjenis mobil L 300 rute dengan rute Sinabang-Kampung Aie.  

E.      Harga Tiket

Bagi Anda yang ingin berziarah ke Makam Teungku Di Ujung  tidak dikenakan biaya, namun disarankan untuk menyisihkan sebagian uang untuk biaya perawatan makam.

F.      Fasilitas dan Akomodasi

Fasilitas di sekitar makam hanya berupa tolilet, tempat ibadah, dan tempat parkir yang tidak luas. Jika Anda menginginkan makan, minum, penginapan, dan fasilitas bank atau ATM, Anda harus pergi ke Kota Sinabang. Di tempat ini, Anda dapat menemukan pusat keramaian dan beberapa penginapan dengan harga terjangkau, berkisar  antara Rp. 120.000 sampai Rp. 200. 000 per malam. (Yusuf Efendi/religi/034/01-12).

 

Dari berbagai sumber

Sumber foto:

  • http://acehpedia.org/Makam Teungku_Diujung
  • http://wikengetaway.wordpress.com/page/3/



Dibaca : 479 kali.

Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan
komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola
obyek wisata setempat.

Komentar - komentar

Komentar Anda tentang obyek wisata di atas :
Nama : *
Alamat : *
Email : *
URL / Website :
Misal : http://www.indonesiaWonder.com/
Komentar : *
Komentar anda akan dimoderasi oleh administrator terlebih dahulu.
   
 
* = Harus diisi