Indonesia Wonder

Loading
English Version | Bahasa Indonesia
Senin, 29 Desember 2014

Makam Raja Ali Haji

Publish 05-12-2008 13:43:26 by Admin
Rating : 0 ( 0 )

A. Selayang Pandang

Di Pulau Penyengat Indera Sakti, Kepulauan Riau, terdapat sebuah makam seorang tokoh yang sangat termasyhur tidak hanya di wilayah Riau saja, melainkan juga hampir di seluruh penjuru Nusantara, yakni Makam Raja Ali Haji. Bahkan Pulau tempat makam tersebut bernaung, Penyengat, selalu dikait-kaitkan dengan nama besar sang pujangga besar Nusantara tersebut. Oleh masyarakat Melayu, khususnya di semenanjung Malaka, nama ini dianggap sebagai pahlawan besar yang layak diagungkan dan dimonumenkan.

Nama lengkap Raja Ali Haji adalah Raja Ali al-Hajj ibni Raja Ahmad al-Hajj ibni Raja Haji Fisabilillah bin Opu Daeng Celak alias Engku Haji Ali ibni Engku Haji Ahmad Riau. Ia dilahirkan pada tahun 1808 M/1193 H di pusat Kesultanan Riau-Lingga di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau dan meninggal pada tahun 1873 M di pulau itu juga. Seperti tercatat dalam sejarah, Raja Ali Haji (RAH) adalah cucu dari Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan IV dari Kesultanan Riau-Lingga dan juga merupakan bangsawan Bugis dari garis keturunan nenek, Opu Daeng Celak, yang telah bermigrasi ke Riau dan memperoleh gelar Yang Dipertuan Agung (pembantu sultan dalam urusan pemerintahan). Riwayat tentang garis keturunan Bugis RAH sangat terkait dengan Raja Bugis yang pertama kali memeluk agama Islam, La Madusilat.

Ayah RAH bernama Raja Ahmad dengan gelar Engku Haji Tua. Ia dikenal sebagai intelektual muslim yang produktif menulis karya-karya besar seperti, Syair Perjalanan Engku Putri ke Lingga (1835 M) dan Syair Perang Johor (1843 M). Sedangkan ibunya bernama Encik Hamidah binti Panglima Malik Selangor atau Putri Raja Selangor yang meninggal pada tanggal 5 Agustus 1844 M.

Sejak kecil, RAH telah mendapatkan pendidikan yang cukup dari ayahnya (Raja Ahmad), selain tambahan pelajaran informal dari suasana lingkungan Istana Kerajaan Riau-Lingga. Dalam iklim kehidupan istana ini, RAH banyak mendapatkan pelajaran berharga dari tokoh-tokoh terkemuka yang sering berkunjung. Saat itu, sebagai pusat kebudayaan Melayu yang giat mengembangkan bidang agama, bahasa, dan sastra, kerajaan ini memang banyak didatangi oleh para tokoh maupun ulama terkemuka, baik untuk keperluan mengajar maupun belajar. Di antara para ulama ini adalah Habib Syeikh as-Saqaf, Syeikh Ahmad Jabarti, Syeikh Ismail bin Abdullah al-Minangkabawi, Syeikh Abdul Ghafur bin Abbas al-Manduri, dan masih banyak lagi. Di luar kerajaan, RAH juga sempat mengenyam pendidikan di Batavia, Mekkah, dan Kairo. 

Pulau Penyengat sebagai tempat kelahiran RAH memiliki arti khusus dalam pembentukan kepribadiannya. Di pulau inilah ia mendedikasikan pengetahuan kepada suluruh masyarakat Riau, dan kemudian menyebar ke seluruh wilayah Nusantara. Konon, sebelum dijadikan pusat kerajaan, Penyengat dikenal sebagai pulau yang sering dikunjungi oleh para nelayan atau pelaut yang ingin mencari air bersih. Pada suatu waktu, saat mengambil air, seorang di antara mereka dikejar-kejar oleh sejenis hewan yang punya alat sengat. Sejak saat itulah pulau ini oleh masyarakat sekitar disebut sebagai Pulau Penyengat. Selain itu, Penyengat juga dikenal sebagai pulau mas kawin. Menurut legenda masyarakat Melayu, pulau ini dihadiahkan Sultan Mahmud Marhum Besar, Sultan Riau-Lingga periode 1761—1812 M, kepada Engku Putri Raja Hamidah, sebagai mas kawin untuk meminangnya.


Illustrasi wajah Raja Ali Haji
Sumber Foto: www.rajaalihaji.com

Raja Ali Haji selama masa hidupnya banyak mengahasilkan karya-karya besar di bidang sejarah, sastra, agama, dan politik. Namun oleh masyarakat, ia lebih dikenal sebagai seorang pujangga besar Nusantara yang telah melahirkan karya monumental “Gurindam Dua Belasditerbitkan dalam bahasa Belanda Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap II (oleh E. Netscher) pada tahun 1854 M. Aktivitas politiknya yang padat, yakni sebagai Penasehat Keagamaan Sultan Ali bin Ja’far (Yang dipertuan Muda Riau VIII), serta lawatannya ke berbagai wilayah di Nusantara tak menyurutkan RAH untuk terus berkarya. Dari buah tangannya tak kurang ada puluhan karya, di antaranya Bustanul Katibin (dicetak di Betawi pada tahun 1850 M), Tuhfat al-Nafis (diselesaikan tahun 1866 M), Mukkadimah fi Intizam, Syair Siti Shianah, Syair Suluh Pegawai, Syair Hukum Nikah, dan Syair Sultan Abdul Muluk. Karya-karya ini banyak dibicarakan oleh para pengkaji bahasa, sastra, dan sejarah di Nusantara dan juga di luar negeri.

Selain itu, RAH juga dianggap peletak dasar pertama tata bahasa Melayu melalui Kitab Pengetahuan Bahasa (1885/1886 M), yakni buku yang menjadi standar bahasa Melayu. Bahasa Melayu standar itulah yang dikemudian hari ditetapkan oleh Konggres Pemuda Indonesia sebagai bahasa nasional (Bahasa Indonesia) pada tanggal 28 Oktober 1928. Karena jasanya yang begitu besar, maka pada tanggal 10 November 2004, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan gelar Pahlawanan Nasional kepada RAH, pada saat peringatan Hari Pahlawan 10 November di Istana Negara, Jakarta.

B. Keistimewaan

Mengunjungi Pulau Penyengat sungguh dapat membawa alam imajinasi wisatawan pada kebesaran Kerajaan Riau-Lingga di masa lalu. Bayangkan saja, di pulau yang hanya memiliki lebar sekitar satu kilometer dan panjang sekitar dua sampai tiga kilometer ini, terdapat puluhan situs bersejarah peninggalan sultan, entah itu berbentuk istana, gedung mahkamah, tempat mandi, gedung tabib, masjid, ataupun makam—termasuk di dalamnya Makam Raja Ali Haji sendiri. Beragam situs bersejarah yang menyebar di pulau ini seolah terangkai dalam satu kontinum yang menggambarkan kebesaran sejarah kerajaan Malayu Riau.

Terletak di kaki bukit kecil yang dikelingi oleh pohon rindang ambacang, mengkudu, dan jambu, kompleks makam Raja Ali Haji terkesan sederhana. Ada beberapa bangunan yang tampak saat wisatawan memasuki kompleks pemakaman ini, di antaranya sebuah masjid mini, berkubah, dan bermihrab. Dinding-dindingnya didominasi warna kuning dan sedikit warna hijau, dengan jendela bulat layaknya jendela kapal. Di dalam bangunan utama ini terdapat cuplikan “Gurindam Dua Belas”. Makam Raja Ali Haji sendiri terletak di luar bangunan utama dengan naungan atap berwarna hijau. Tidak adanya dinding penyekat yang menutupi makam, seolah membiarkan para peziarah masuk dan melihat secara lebih leluasa. Dua nisan di atas makam ini dibungkus rapi oleh kain berwarna kuning, mirip seperti cara membungkus jenazah saat prosesi penguburan. Mengamati detail makam ini, wisatawan akan segera menangkap tulisan di atas makam yang berbunyi: “Raja Ali Haji, Terkenal, Gurindam XII”. 


Makam Raja Ali Haji dari dekat
Sumber Foto: www.melayuonline.com

Sebenarnya dalam kompleks ini terdapat banyak makam para raja/sultan Kesulatanan Riau Lingga yang bersanding-sisi dengan makam Raja Ali Haji. Makam permaisuri terletak di bangunan utama, sedangkan makam raja laki-laki—seperti Raja Ahamad Syah, Raja Abdullah Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga IX, dan Raja Ali Haji sendiri—terdapat di luar ruangan. Makam Engku Putri Raja Hamidah yang secara simbolis merupakan pemilik mas kawin Pulau Penyengat dari Sultan Mahmud Marhum Besar, terdapat di dalam ruang utama. Selain itu, masih terdapat banyak makam orang-orang yang punya hubungan kekerabatan kerajaan di luar pagar kompleks makam.

Melongok makam RAH mungkin akan menimbulkan kesan unik bagi wisatawan. Pasalnya, meski secara resmi dikenal sebagai kompleks makam Engku Putri Raja Hamidah, pengelola makam sengaja menonjolkan atribut formal untuk penghormatan terhadap Raja Ali Haji. Lihat saja, dua baliho yang merujuk pada kebesaran sang pujangga: “Raja Ali Haji Pahlawan Nasional Bidang Bahasa Indonesia” dan sebuah lagi, “Raja Ali Haji Bapak Bahasa Melayu-Indonesia, Budayawan di Gerbang Abad XX”. Mungkin hal ini dimaksudkan sebagai penghormatan terhadap tokoh besar Nusantara (RAH) yang ditabalkan oleh Keppres RI Nomor 089/TK/2004 sebagai Pahlawan Nasional, tanpa menafikan penghormatan terhadap raja-raja lain dalam makam ini.


Baliho yang mengangungkan kebesaran Raja Ali Haji di makamnya

Jika masih belum puas mengunjungi makam RAH, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan wisatanya di pulau kecil ini. Di antaranya adalah Istana Kedaton tempat Sultan Riau-Lingga terakhir tinggal; Istana Bahjah tempat tinggal Raja Ali Kelana; Gedung Hakim Mahkamah Syariah Raja Haji Abdullah dengan tiang-tiang kukuh menyerupai bangunan Yunani kuno; Gedung Tabib, bekas tempat praktek Engku Haji Daud, tabib kerajaan; dan Perigi Kunci, tempat mandi putri istana. Selain situs-situs sejarah ini juga masih terdapat situs lain di antaranya makam Yang Dipertuan Muda Riau IV Raja Haji Fisabilillah, Tapak Percetakan Kerajaan, Benteng Bukit Kursi, Makam Embung Fatimah di Bukit Bahjah, dan Bukit Penggawa. Daftar situs-situs sejarah ini tercatat rapi pada katalog wisata yang dijajakan penduduk kepada para wisatawan saat mengunjungi pulau Penyengat.

C. Lokasi

Makam Raja Ali Haji terletak di Pulau Penyengat, Kelurahan Penyengat, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Indonesia. Lokasinya terletak di kompleks pemakaman Engku Putri Raja Hamidah, tepatnya di luar bangunan utama Makam Engku Putri Raja Hamidah.

D. Akses

Kota terdekat untuk mencapai Pulau Penyengat adalah Tanjungpinang, Pulau Bintan. Jaraknya sekitar enam kilometer atau sekitar 30 menit perjalanan laut dengan menggunakan perahu pompong (perahu kecil). Namun, meskipun begitu, wisatawan yang berasal dari luar daerah Kepulauan Riau biasanya mengambil rute melalui Pulau Batam—juga masih termasuk Kepulauan Riau—karena jumlah penerbangan ke kota ini cukup ramai. Di Kota Batam terdapat Bandara Hang Nadim, tempat singgah sebelum menuju Penyengat. Dari bandara ini, wisatawan dapat mencari taksi menuju pelabuhan terdekat. Setelah sampai di pelabuhan, wisatawan disarankan untuk naik kapal feri menuju Pulau Bintan dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam. Sepanjang perjalanan wisatawan akan disuguhi pemandangan pulau-pulau kecil nan eksotis dengan hiasan hijau pohon bakau dan dedaunan yang melambai, serta air laut yang jernih. Selain itu, perahu yang saling berselisih jalan juga akan menambah suasana riang perjalanan.


Pelabuhan Sri Bintan Pura, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau

Setelah kapal feri merapat di Pulau Bintan, tepatnya di Pelabuhan Sri Bintan Pura, Tanjung Pinang, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan dengan berpindah dermaga, untuk mencari kapal kecil bermesin tempel alias pompong. Caranya cukup mudah, yakni memutar ke arah pusat Kota Tanjungpinang dengan menggunakan becak atau jalan kaki menuju dermaga. Di dermaga Tanjungpinang, wisatawan akan menemukan perahu pompong yang akan mengantarnya menuju Pulau Penyengat. Jika tak mau terburu-buru, singgahlah dulu untuk sekedar berkeliling di Kota Tanjungpinang. Di kota ini banyak tersedia toko pakaian, kedai cenderamata, kantor agen perjalanan, tempat penukaran uang, restoran, toko emas, dan lain-lain.

Saat berangkat dengan pompong dari Tanjungpinang, wisatawan secara jelas dapat menikmati gugusan kecil Pulau Penyengat yang telah semakin dekat. Dalam waktu kurang dari 30 menit, wisatawan akan sampai di sebuah dermaga kecil yang tak jauh dari Masjid Sultan Riau, di Pulau Penyengat. Menjejakkan kaki pertama di pulau ini, wisatawan akan disambut oleh pintu gerbang pulau yang jaraknya kurang lebih 200 meter dari bibir pantai. Jika wisatawan telah masuk beberapa ratus meter, deretan becak motor akan menawarkan jasanya berkeliling pulau dengan tarif sekitar Rp 20.000 (November 2008). Tentu harga ini bisa ditawar oleh para pengunjung. Dengan becak inilah wisatawan dapat berkeliling menuju situs-situs bersejarah di Pulau Penyengat, tak terkecuali Makam Raja Ali Haji.    

E. Harga Tiket

Memasuki kompleks Makam Raja Ali Haji tidak dipungut biaya.

F. Akomodasi dan  Fasilitas Lainnya

Di sekitar kompleks Makam Raja Ali Haji terdapat mushola, masjid, warung makanan, toilet umum, dan penginapan.

(Irfan Afifi/wm/43/11-08)

__________

Sumber Foto Utama: Koleksi www.wisatamelayu.com (Fotografer: Mahyudin Al Mudra)



Dibaca : 560 kali.

Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan
komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola
obyek wisata setempat.

Komentar - komentar

Komentar Anda tentang obyek wisata di atas :
Nama : *
Alamat : *
Email : *
URL / Website :
Misal : http://www.indonesiaWonder.com/
Komentar : *
Komentar anda akan dimoderasi oleh administrator terlebih dahulu.
   
 
* = Harus diisi